Laksana Orang Buta Menuntun Orang Buta

 Pernah nggak kamu ketemu sama orang yang ngerasa selalu paling benar? Apa yang dia pikirin seolah jadi satu-satunya kebenaran di dunia, dan semua orang harus ikut. Padahal, cara pandang kita itu kayak warna langit—kadang biru, kadang oranye, kadang mendung. Nggak bisa semua orang dipaksa lihat langit dengan warna yang sama.

Masalahnya, kalau pemikiran yang dipaksakan itu ternyata salah atau setidaknya belum tentu benar, ya sama aja kayak orang buta yang nuntun orang buta. Ujung-ujungnya malah nyasar bareng, jatuh ke lubang yang sama, atau muter-muter di tempat tanpa tahu arah. Niatnya sih pengen bantu, tapi kalau ilmunya belum bener, malah bahaya.

Makanya, belajar tuh nggak cuma soal ngumpulin ilmu buat diri sendiri, tapi juga buat tahu batasan kita dalam memberi arahan ke orang lain. Kadang, yang kita butuhin bukan orang yang paling pintar, tapi orang yang mau mendengar, mau belajar bareng, dan nggak gengsi buat bilang “aku nggak tahu.”

Hidup ini indah kalau kita mau saling membuka mata dan hati. Bukan buat memaksakan pandangan, tapi buat berbagi cahaya. Karena cahaya itu nggak pernah egois, dia selalu menerangi tanpa memaksa.


"Jangan jadi mata yang buta karena sombong, tapi jadilah hati yang terang karena mau belajar."

Komentar